Senin, 19 November 2018

Fenomena Wisata Literasi di Indonesia


Liburan adalah satu kata yang menyenangkan, bukan hanya menyenangkan untuk diucapkan melainkan juga mengasyikan untuk ditunggu kedatangannya, banyak orang yang benar-benar mempersiapkan dengan matang momen liburan mereka agar segala sesuatunya berjalan lancar dan mereka benar-benar merasakan nikmatnya liburan ditengah kesibukan mereka.

Hasil gambar untuk liburanJika musim libur tiba tempat wisata penuh sesak oleh pengunjung, kemacetan di jalan raya pun tidak terhindarkan disebabkan oleh tumpah ruahnya orang yang bepergian, baik hendak liburan atau pun oleh orang yang untuk merayakan natal dan tahun baru. Seringkali ketika datangnya musim liburan semua tiket masuk habis dan untuk mensiasatinya para calon penikmat liburan harus memesan tiket masuknya dari jauh-jauh hari. Tidak hanya wisata liburan yang menyuguhkan berbagai wahana rekreasi ataupun wahana menghibur lainnya yang menyedot banyak pengunjung, wisata literasi pun dapat menunjukan diriya dapat bersaing dengan wisata hiburan lainnya, selain menyuguhkan rekreasi yang mendidik, wisata literasi juga tidak kalah menyenangkan dan menariknya dari wisata alam atau pun tempat rekreasi lainnya.
Semua orang tentunya mengharapkan dapat berlibur dengan aman, nyaman, dan menyenangkan. Liburan digunakan sebagai sarana untuk menyegarkan kembali badan, pikiran, dan suasana hati yang stress karena tuntutan pekerjaan, atau merekatkan suasana kekeluargaan yang renggang karena sibuk dengan aktivitas masing-masing.

Gambar terkait
Wisata literasi selain juga menyuguhkan konsep berwisata dan belajar keunggulan lainnya adalah harga yang harus dihabiskan pengunjung untuk mengunjungi wisata literasi ini adalah tidak seberapa besar dari pada wisata rekreasi lainnya. Wisata literasi merupakan sebuah wisata dimana orang yang berlibur mengisi waktunya dengan membaca dan menulis. Membaca di sini dapat diartikan membaca buku, jurnal, majalah, surat kabar, atau juga dapat diartikan pergi ke suatu tempat untuk mencari informasi, berkunjung ke toko buku, berkunjung ke museum datang ke perpustakaan, atau “membaca” fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat untuk kemudian dijadikan sebagai bahan tulisan.

Wisata literasi cocok dijadikan sebagai wisata bagi para pelajar yang masih haus akan ilmu pengetahuan sehingga mereka dapat berekreasi sekaligus belajar. Wisata literasi tidak hanya berada di tempat wisata yang yang benar-benar mengusung konsep wisata literasi saja, melainkan juga dapat di nikmati ketika kita dimana saja, seperti saat kita menunggu datangnya bus atau kereta kita dapat meluangkan waktu kita untuk membaca literasi seperti buku novel ataupun surat kabar maupun majalah.
Gambar terkaitOrang yang menikmati wisata literasi akan sangat menikmati apa yang dia baca, hanyut dalam segala informasi yang ia dapat dan hal itu dapat membuatnya merasa senang dan terhibur, dan tidak dapat dipungkiri pula buku adalah sumber datang nya ilmu walaupun sekarang sudah memasuki zaman digital hampir semua buku sudah ada bentuk digitalnya, tapi kehadiran buku fisik juga tidak dapat tergantikan bagi para pecinta buku. Para penikmat wisata literasi ini akan sangat betah dan nyaman menghabiskan setiap lembar kertas dan membaliknya penuh rasa ingin tahu.
Bagi sebagian orang yang tidak terlalu menikmati kegiatan membaca dan menulis atau kegiatan yang banyak menyita focus perhatian mereka pada satu hal mungkin akan cepat merasa bosan dan perlahan akan mengantuk. Bagi mereka yang tidak terlalu menikmati wisata literasi mungkin akan berfikir bahwa liburan adalah  segala sesuatu hal yang menyenangkan, menghabiskan semua waktu mereka dengan bersenang-senang bukan meluangkan waktu mereka dengan membaca buku atau mengujungi wisata literasi yang membosankan seperti museum ataupun perpustakaan, jika seperti itu mereka berfikir mungkin sama saja adalanya liburan ataupun tidak karena otak mereka tetap di paksa untuk membaca dan menyerap segala informasi yang sebenarnya berlimpah dalam wisata literasi. Mungkin saja perbedaan pendapat seperti ini masih terjadi di kalangan masyarakat.

Gambar terkaitDalam konteks wisata literasi para orang tua berperan banyak, mereka yang biasanya mengarahkan buah hati mereka untuk tetap menikmati wisata literasi selain juga menikmati liburan wisata pada umumnya. Para orang tua yang biasanya mengarahkan anak-anak mereka untuk berkunjung ke museum, taman atau ke toko buku dan membiarkan anak-anaknya untuk mendapatkan pengetahuan baru, mengamati lingkungan sekitar, mendapat pertemanan baru dan menambah rasa ingin tahunya tetang suatu hal yang diminatinya. Intinya adalah orang tua memberikan liburan yang berkualitas dan bermanfaat kepada anak-anak mereka. Sekolah-sekolah pun bukan hanya membawa para siswanya untuk berlibur ke tempat-tempat wisata, tetapi mereka membawa para siswanya untuk berlibur ke wisata literasi yang memang menyuguhkan banyak pengetahuan dan ilmu baru, dengan maksud ingin para siswa mengamati, bertanya, mengumpulkan informasi, berlatih berfikir logika, dan mengomunikasikan dalam bentuk menulis laporan kegiatan. Wisata literasi juga dekat kaitannya dengan wisata edukasi, karena di dalam wisata literasi ada nilai-nilai edukasinya.

Hasil gambar untuk library cafeSemakin berkembangnya variasi wisata literasi belakangan ini semakin memudahkan para pecinta buku dan ilmu pengetahuan untuk menghabiskan waktu mereka dengan setumpuk buku literasi maupun sumber pengetahuan lainnya, contohnya saja telah hadirnya kombinasi dari tempat minum kopi (caffe) dengan perpustakaan yang tak kalah menarik untuk dikunjungi, dengan desain interior caffe yang biasanya sangat artistic memanjakan mata pengunjung dan didukung dengan adanya perpustakaan dalam satu ruangan membuat para pecinta buku semakin betah untuk berlama-lama mendalami dunia mereka dalam literasi. Dengan suasana yang santai tak terlalu kaku seperti suasana di perpustakaan pada umumnya membuat membaca buku ditempat ini menjadi semakin menyenangkan.
Tumpukan buku-buku yang rapi tersusun juga dapat dimanfaatkan sebagai desain interior caffe yang dapat menarik para pengunjung untuk berfoto atau menjadikan beberapa spot dalam ruangan menjadi spot foto yang menarik.

Tapi sayangnya dengan dipermudahnya akses para pecinta buku untuk menikmati buku mereka sambil meminum kopi hangat tak membuat usaha library caffe dapat berkembang pesat dan menjadi jenis usaha yang menjanjikan keuntungan yang besar, hal ini juga di dasari oleh fakta bahwa minat baca masyarakat Indonesia yang masih rendah jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya. rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca perhari rata-rata 30-59 menit. sedangkan jumlah buku yang ditamatkan per tahun. rata-rata 5-9 buku. Hal ini sangat disayangkan mengingat pentingnya peran buku untuk menambah wawasan yang tidak akan tergantikan meskipun sekarang sudah memasuki zaman digital.

Banyak usaha pemerintah untuk meningkatkan minat baca masyarakat salah satu nya dengan membangun gedung perpustakaan Nasional yang diklaim menjadi gedung perpustakaan tertinggi di dunia dengan fasilitas yang lengkap di dalamnya mulai dari buku anak-anak sampai buku pengetahuan umum lengkap tersedia. Di adakannya gerakan membaca buku dalam gerbong kereta KRL dengan tujuan agar para penumpang meluangkan waktunya dalam perjalanan untuk membaca buku ataupun novel. Diadakannya bazzar besar-besaran yang menjual berbagai macam buku dari luar negri maupun dalam negeri dengan harga miring yang bertujuan membuat masyarakat berbondong-bondong membeli buku.
Kembali lagi segala usaha pemerintah diatas tak akan berhasil jika dalam masyarakatnya sendiri tidak mau berubah untuk memperbaiki minat baca mereka sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar